Elang itu Telah Lepas

Di waktu yang lalu, ku berlali kencang mengejar elang. Ekspektasi itu telah tinggi. Mengait pada elang yang terbang, berharap dia menoleh. Namun, dia telah berlalu. Hehehe . . . Bicara apa sih.

Saya dan seorang teman pada bulan yang lalu membentuk kerja sama untuk ikut serta dalam eagle award 2009. Persiapan dilakukan kurang optimal karena bertepatan dengan proyek film yang lain. Namun pada akhirnya, kami mampu menyelesaikan Proposal Eagle Award Documentary Competion 2009 tersebut sebagai syarat seleksi awal. Dengan penuh keyakinan, saya dan teman menyelesaikan proposal tersebut. Saya pun menularkan keyakinan tersebut kepada rekan saya yang masih ragu untuk mengikuti kompetisi ini. Hingga ia dapat menyertakan proposalnya pada saat-saat terakhir.

Setelah itu, kami harus menunggu. Keyakinan belum surut dari diri saya. Bahkan, proses EADC selanjutnya, sudah saya jadikan proyeksi ke depan.

Kemarin malam, kabar membahagiakan sampai kepada saya dari rekan yang saya sebut di atas. Ia sampaikan via chat di Facebook bahwa proposalnya lolos seleksi tahap pertama. Waw, melegakan!

Lega itu diiringi rasa penasaran, saya lolos juga gak ya. Saya tanya rekan saya itu bagaimana ia dihubungi oleh penyelenggara, sehingga ia tahu bahwa ia lolos. Terbersit pikiran, gak ada tuh yang menghubngi saya atau setidaknya ada telepon atau email dari no atau alamat yang tidak diketahui. Semua menjadi pasti setelah saya liat websitenya, mengikuti informasi dari rekan saya itu. Nama rekan saya terpampang dan nama saya tidak ada. Hehehe . . . Cerita yang cukup berat.

Penundaan keberhasilan itu pada awalnya cukup menyesakkan. Kebayanglah ya rasanya. Namun di samping lain, saya merasakan keberhasilan lain, yaitu ikut berkontribusi menyukseskan rekan saya dan terbinanya ketulusan-keikhlasan. Kejadian tdak

Get Inspired! (4); (5); (6) - Terima kasih Raditya Dika!

Waw!

Sudah lama ABGIE tidak melangkah. Berasa ada misi yang belum terselesaikan. Entahlah, apa itu bukti matinya harapan akan masa depan atau bukan; apa itu pertanda stagnasi usaha dalam proses atau bukan; apa itu sinyal pudarnya kecemerlangan masa depan atau bukan. Yang pasti kini ABGIE telah kembali merentas masa depan.

Tanggal 1 Juni ini menjadi momentum untuk kembali memulai langkah pertama. Memulai itu akan selalu sulit, kata orang. Tak ada untungnya memperturutkan kata orang kebanyakan itu, toh saat ini hal sulit itu bisa diatasi.

Sebelum melangkah ke langkah berikutnya, akan saya tuntaskan Get Inspired dari Raditya Dika ini hingga akhir. Seperti biasa, patut saya sebutkan sumber tulisan penuh manfaat ini: Majalah Bukunè Edisi 07 Tahun I, Mei 2007. Ilmu dari sumber jadul yang tak lekang waktu ini begini lanjutannya:

Biasakan mencatat ketika pergi ke mana-mana. Bawa notes kecil yang bisa kamu kantongin di saku baju atau celana. Karena teknologi sudah semakin canggih,gunakan handphone kamu untuk mencatat ide-ide yang kamu jumpai pada hari itu. Misalnya kamu melihat seorang anak muda lagi jalan di Citos dengan dandanan metal yang menurut kamu "asik". Kamu bisa mencatat secara deskriptif gaya busana orang tersebut. Kamu juga bisa bahkan memotret dia. Ketika malam-malam nanti kamu bersiap untuk menulis atau melanjutkan novel kamu, kamu bisa membuat tokoh baru berdasarkan apa yang kamu amati tadi. Kejadian lain seperti tabrakan motor dengan sepeda yang kamu liat di tengah jalan bisa jadi ide cerita juga. Jadikan notes kamu sebagai bank ideas ketika inspirasi mulai seret.

Menulislah secara rutin. Misalnya, cobalah menulis setiap mau tidur dengan laptop di pangkuan kamu. Lalu, tentukanlah apa yang kamu tulis secara rutin, seperti setiap hari menulis sebuah sinopsis cerita baru. Atau, setiap hari ada satu deskripsi karakter fiktif yang kamu tulis. Yang penting, biasakan menulis secara rutin, hal ini bisa membuat kamu menghemat banyak energi ketika nanti perlu sub-plot untuk novel kamu (bisa diambil dari sinopsis), atau karakter baru (bisa diambil dari deskripsi karakter).

Ollie, seorang penulis novel, seringkali memutar musik-musik perancis dari tape-nya sewaktu ia menulis buku Je M'appelle Lintang yang bersetting di Perancis. Dengan membangun suasana yang pas dengan background cerita kamu, kamu bakalan bisa lebih enjoy dalam menulis. Nah, kalau udah enjoy dalam menulis, ide akan lebih mudah untuk mengalir.

So, yang perlu kamu lakukan setelah get inspired adalah... get yourself to write!.

Ilmu itu semoga bermanfaat. Terus melangkah menggapai mimpi dan masa depan yang cerah.

Get Inspired (3) - Salut Dik

Tibalah saatnya kita pada bagian ketiga dari Get Inspired. pada bagian ini kita diajarkan sesuatu yang beda dan orisinal gaya Raditya Dika. Pastinya kan sangat bermanfaat. Tak bosan disebutkan bahwa sumber tulisan ini adalah majalah Bukune edisi 07 Tahun I, Mei 2007. Walaupun sumber tidak aktual alias jadul, dijamin, isinya masih berumur panjang dan tak lekang oleh waktu. Berikut wejangan Si kambing:

Gak banyak orang menduga bahwa mencari ide cerita yang unik bisa dilakukan dengan menguping. Ya, jadi penulis bukan berarti gak boleh menguping dong? Kadang, pembicaraan orang di telepon ketika kamu lagi nungguin bus bisa menjadi ide cerita yang potensial. Bayangkan ketika kamu nungguin bus dan ada orang yang curhat di telepon tentang pacarnya yang alkoholik. Selain bisa menjadi ide cerita, percakapan telepon tersebut bisa kamu gunakan sebagai gaya bicara orang yang natural untuk kamu masukkan di novel kamu nanti.

Ajarannya benar-benar beda kan? Apa kamu dah "mengamalkan" dua ajaran sebelumnya? Bisa dirasakan sendiri kan ajaran yang kali ini lebih mudah dari ajaran sebelumnya. Selamat mengaplikasikan.